Info Utama
MEMBURU UNTUNG ROTI BANDUNGDengan harga relatif
murah, Roti Bandung bisa bersaing dengan penganan lain. Untung yang
lumayan besar bisa dipetik dari jualan roti ini.
Sekitar
1990, pedagang Roti Bandung bermunculan. Mulai dari kota-kota
besar di Jawa Barat, kemudian menjalar ke beberapa kota lain di
luar Jawa Barat. Para pedagang itu menggunakan gerobak dorong,
dan mengambil lokasi mangkal di pinggir trotoar yang ramai dan
tempat lain yang banyak dilalui orang.
Sepintas, Roti
Bandung sebetulnya sama saja dengan roti tawar biasa. Namun
ukurannya lebih kecil, lebih padat, dan mempunyai
guratan-guratan khas di pinggirnya. Oleh pedagang, roti ini
disajikan dengan cara dipanggang dan diberi berbagai macam isian.
Harganya cukup murah, antara Rp 3.500 sampai Rp 4.000.
Dengan harga
segitu, pedagang sudah bisa mengantongi untung yang lumayan
besar. Sebab, roti "mentahnya" (baca: belum dipanggang)
mereka peroleh dengan harga sekitar Rp 1.200 per buah.
Mulanya, roti
"mentah" itu disuplai langsung dari Bandung. Namun,
seiring dengan perkembangan yang terjadi, kemudian di kota-kota
lain, bermunculan pabrik pembuat Roti Bandung.
Baik produsen
roti maupun pedagang Roti Bandung, umumnya bergerak dalam skala
yang relatif kecil. Seorang produsen di Depok, Jawa Barat
misalnya, hanya menghabiskan 4 bal tepung terigu sehari.
Sementara sejumlah pedagang di Jakarta, rata-rata menjual 30
buah Roti Bandung bakar sehari.
Namun begitu,
toh perputaran bisnisnya berjalan lancar, sebab para pedagang
itu selalu bisa menghabiskan rotinya. Masuk akal, karena —dengan
harga yang relatif murah— Roti Bandung memang bisa bersaing
dengan penganan lain yang juga dijajakan di tempat yang sama.
(Ddy)
|