EDISI 17 - 2001

 
 
Info Utama
MEMBURU UNTUNG ROTI BANDUNG

Dengan harga relatif murah, Roti Bandung bisa bersaing dengan penganan lain. Untung yang lumayan besar bisa dipetik dari jualan roti ini.

Sekitar 1990, pedagang Roti Bandung bermunculan. Mulai dari kota-kota besar di Jawa Barat, kemudian menjalar ke beberapa kota lain di luar Jawa Barat. Para pedagang itu menggunakan gerobak dorong, dan mengambil lokasi mangkal di pinggir trotoar yang ramai dan tempat lain yang banyak dilalui orang.

Sepintas, Roti Bandung sebetulnya sama saja dengan roti tawar biasa. Namun ukurannya lebih kecil, lebih padat, dan mempunyai guratan-guratan khas di pinggirnya. Oleh pedagang, roti ini disajikan dengan cara dipanggang dan diberi berbagai macam isian. Harganya cukup murah, antara Rp 3.500 sampai Rp 4.000.

Dengan harga segitu, pedagang sudah bisa mengantongi untung yang lumayan besar. Sebab, roti "mentahnya" (baca: belum dipanggang) mereka peroleh dengan harga sekitar Rp 1.200 per buah.

Mulanya, roti "mentah" itu disuplai langsung dari Bandung. Namun, seiring dengan perkembangan yang terjadi, kemudian di kota-kota lain, bermunculan pabrik pembuat Roti Bandung.

Baik produsen roti maupun pedagang Roti Bandung, umumnya bergerak dalam skala yang relatif kecil. Seorang produsen di Depok, Jawa Barat misalnya, hanya menghabiskan 4 bal tepung terigu sehari. Sementara sejumlah pedagang di Jakarta, rata-rata menjual 30 buah Roti Bandung bakar sehari.

Namun begitu, toh perputaran bisnisnya berjalan lancar, sebab para pedagang itu selalu bisa menghabiskan rotinya. Masuk akal, karena —dengan harga yang relatif murah— Roti Bandung memang bisa bersaing dengan penganan lain yang juga dijajakan di tempat yang sama. (Ddy)
    

Profil WM | Kontak | Site Map | FAQ | Links